Jumat, 30 Mei 2014

Dongeng

Sang Merpati
Di sebuah pedalaman hutan hiduplah seekor burung merpati berwarna putih keabu-abuan. Merpati ini satu-satunya yang ada dalam hutan, sejak kecil ia dirawat oleh seekor monyet yang baik. Saat itu merpati kecil sedang belajar terbang, tiba-tiba angin besar menjatuhkannya dan ia jatuh ke dalam hutan tersebut. Sang ibu merpati tidak menyadarinya, hingga akhirnya merpati kecil sendiri dalam hutan. Di dalam hutan, sang merpati kecil tersangkut di dahan pohon besar tidak sadarkan diri dan sayapnya pun patah. Kebetulan sekelompok monyet sedang berayun mencari makanan, salah satu dari mereka melihat merpati kecil itu, lalu ia menyelamatkan sang merpati. Meskipun temannya yang lain menentang tapi monyet itu tetap menolong dan membawanya kedalam kelompok.
“Mengapa kau membawanya kemari?” tanya Raja monyet
“Aku khawatir melihatnya, ia masih kecil dan tidakkah kau lihat sayapnya patah.” jawabnya
“Tidak, buang dia! kita tak menginginkannya disini. Dia makhluk penerbang berbeda dengan kita!” Raja menyentak
“Tidak! Jika kau tak mau,biar aku yang akan merawatnya. Aku janji dia akan baik kepada kita!” ujar sang monyet
Akhirnya sang Raja pun luluh dan membiarkan merpati kecil masuk dalam kelompoknya itu. Monyet penyelamat itu mengobati luka sang merpati kecil. Tiba-tiba sang merpati terbangun dan ia tercengang melihat bahwa yang ada di hadapannya itu adalah monyet.
“Siapa kau? Apa yang telah kau lakukan padaku?” tanya sang merpati dengan sangat khawatir
“Tadi aku menemukanmu tersangkut di antara dahan pohon dan sayapmu patah, maka aku membawamu kesini. Ke kelompok monyet.” Jawab sang Monyet
“Oh, terimakasih telah menyelamatkanku. Aku harus pergi!” sambil berusaha kuat mengingat yang terjadi “aw!” jerit merpati
Monyet tidak tega membiarkan merpati kecil itu untuk pergi dan terbang dengan keadaan seperti itu. Sang Monyet menahan merpati untuk pergi sebelum ia sembuh dan ia yang akan selalu merawatnya. Sang Merpati berpikir sejenak dan akhirnya menyetujuinya.
          Hari-hari telah berlalu, merpati dan kawanan monyet itu sekarang menjadi akrab. Bahkan para monyet yang mengajarkan merpati untuk kembali bisa terbang. Meskipun monyet hanya dapat melompat atau berayun tapi monyet pengajar yang baik. Akhirnya sang Merpati dapat kembali terbang dengan kedua sayapnya itu. Merpati sekarang sudah menjadi bagian kawanan monyet.
Setelah cukup sekian lama merpati menjadi anggota monyet, ia teringat oleh ibunya dan merindukannya. Lalu sang merpati berniat untuk mencari ibunya kemanapun ia bisa menemukan ibunya atau menemukan kawanan merpati yang lain. Sang perawat merpati ini sudah tahu akhirnya pasti sang merpati akan pergi meninggalkannya, namun ia tidak ingin itu terjadi. Tapi apadaya, merpati itu tidaklah sejenis dengannya dan dia harus merelakannya. Pada hari yang sudah ia tunggu, akhirnya sang merpati berpamitan dengan kelompok monyet.
          “Aku harus pergi. Aku ingin mencari ibu dan kawananku yang lain. Terimakasih telah menerimaku menjadi bagian dari keluarga kalian.” pamit merpati
          “Tapi kau akan kemana? Mengapa kau tidak tinggal saja bersama kami? Haruskah kau pergi?” jawab monyet menahan sang merpati pergi
          “Aku tak tahu kemana akan pergi, tapi aku bisa bertanya. Aku harus menemukan keluargaku, bagaimanapun mereka pasti akan merindukanku dan menantikan aku. Telah lama sekali pasti mereka selalu mengkhawatirkanku, tapi kalian tetap keluargaku. Jika nanti aku sudah menemukan keluargaku aku pasti akan mengunjungi kalian disini” sang merpati mencoba meyakinkan
Para monyet pun merelakan ia pergi meski berat rasanya. Sang merpati lalu memulai perjalanannya untuk mencari sang ibu dan kawanannya. Dalam perjalanan ia bertanya dan terus bertanya kepada hewan lain yang ia temui, seperti lebah, kupu-kupu ataupun burung lainnya. Meskipun tidak selalu mendapatkan petunjuk tetapi merpati tidak patah semangat ia tetap mencari. Hari mulai gelap dan dia harus menghentikan pencariannya dan mencari tempat agar ia dapat beristirahat. Ia menemukan sebuah sarang kosong dipinggir tebing, ia memutuskan untuk istirahat disarang tersebut. Baru saja ia sejenak melemaskan tubuhnya, tiba-tiba datang seekor elang dengan kegagahannya. Merpati tampak kaget ketika melihat elang itu
          “Apa yang kau lakukan disarangku? Seenaknya saja kau menempatinya! Pergi kau!” elang mengancam
          “Aku kira sarang ini kosong, maafkan aku. Aku tidak tahu. Tolong bantu aku, bolehkah aku tinggal disini? semalam saja? Hari sudah gelap dan kau tahu kan burung sepertiku tak bisa terbang saat gelap.” Merpati memelas
          “Mengapa kau bisa disini? apa kau tak punya tempat tinggal?” tanya elang
          “Aku sedang mencari ibuku, aku tak tahu dimana tempat tinggalku, aku sedang mencarinya.” Jawab merpati
Elang terus bertanya pada merpati, lalu sang merpati menjelaskan semua yang terjadi pada hidupnya. Elangpun merasa iba pada merpati, kemudian ia mengizinkan sang merpati untuk tinggal disarangnya semalam itu dan sampai kapanpun yang ia mau karena elangpun mengalami hal yang sama dengan merpati, ia pernah kehilangan ibunya semasa kecil. Keesokan harinya elang menceritakan bahwa ia pernah bertemu dengan sekawanan merpati yang sedang mencari anaknya, mungkin saja itu dia. Elang menawarkan bantuan kepada merpati untuk mengantarkan ke kawanan merpati yang pernah mencarinya itu, karena kebetulan ia pernah sekali melihat tempat tinggal kawanan merpati itu. Dengan sangat senang merpati menerima bantuan Elang, secepatnya mereka pergi ke tempat sarang merpati itu. Karena sang Elang sudah cukup tua, ia sedikit lupa ke arah mana mereka harus pergi namun ia selalu berhasil untuk mengingatnya. Tak diduga, mereka berhasil menemui kawanan merpati itu. Tempat tinggal merpati sangatlah ramai, burung-burung bernyanyi, mengobrol dan sebagainya. Sang elang lalu berteriak kepada kawanan merpati itu, tidak nampak ketakutan pada merpati karena mereka tahu elang itu adalah teman mereka, berbeda dengan elang yang lain. Salah satu dari mereka menghampiri Elang itu dan bertanya ada apakah yang terjadi sehingga ia harus jauh menuju tempat para merpati. Sang Elang pun menjelaskan dan ia memperlihatkan sang merpati yang ia bawa. Tak diduga, ternyata merpati itu memang merupakan bagian dari mereka. Dan yang menghampiri elang itu adalah ayahnya. Ayahnya tak menduga anaknya dapat kembali, betapa terharunya saat itu semua memandangnya dan sang ibu langsung memeluknya. Sang ibu sangat merindukan anaknya selama ini, ia selalu memikirkannya tanpa henti. Dan akhirnya semua bahagia. Dan elang itu hanya dapat tersenyum dan ia masuk kedalam kawanan merpati dan para merpati merawatnya karena ia sudah tua dan khawatir jika ia kembali ketempat asalnya.
          Merpati menceritakan semua kejadian yang ia alami kepada ibunya. Ibunya meminta maaf karena ia tidak bisa menjaganya, namun merpati kecil tidak marah karena ia mengerti keadaan ibunya. Setelah beradaptasi dengan kawanan merpati itu, sang merpati meminta izin kepada ibunya untuk mengunjungi keluarga monyet yang telah merawatnya. Sang merpati pergi bersama ibu dan ayahnya, mereka ingin mengucapkan rasa terima kasih mereka karena telah menjaga anaknya. Setibanya dikelompok monyet, sang perawatnyalah yang menyambutnya, ia sangat senang sang merpati kecilnya kembali dan menemukan keluarganya. Kelompok monyet dan merpati pun sekarang menjadi dua kelompok yang bersaudara.
TAMAT


Mungkin cerita gue diatas masih acak-acakan ya, tapi bisalah dapet hikmahnya. Salah satunya “Perbedaan bukan sebuah alasan untuk menolak apapun, karena perbedaan bukan sebuah penghalang.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar